How do we build social movements to improve nutrition among adolescents and create change-making skills simultaneously?

Sebagai generasi muda, pernah nggak sih terlintas dalam pikiran, apa yang sudah kamu lakukan untuk membuat kualitas hidup kita lebih baik lagi? Tidak usah yang besar-besar, mulai dari hal-hal kecil dulu saja, deh. Misalnya, memerhatikan jajanan yang biasa kamu beli di sekolah.. Pernahkah kamu memilih jajanan yang sehat, bergizi tetapi rasanya juga enak? Mungkin terdengar remeh ya, tapi ternyata pilihan makanan enak yang lebih sehat bergizi itu nggak banyak lho! Buktinya, coba saja kamu perhatikan , apakah teman-temanmu atau mungkin kamu sendiri berat badannya sudah cukup proporsional?
Ini menjadi masalah serius karena gizi itu penting untuk kehidupan yang lebih sehat dan sejahtera bagi bangsa ini. Tahu nggak, setiap tahunnya, angka kegemukan dan obesitas di Indonesia terus meningkat. Ibarat gadget yang diisi ulang dengan charger yang tidak berkualitas, tubuh menjadi cepat lelah, sering pusing dan tidak bersemangat jika terus menerus mengonsumsi makanan yang kurang bergizi. . Kalau sudah tidak bersemangat, bagaimana mau berprestasi? Jika dibiarkan, kondisi ini menciptakan ‘lingkaran jahat’ yang akan menghambat tumbuh kembang generasi bangsa. Bukan saja dapat menghasilkan individu-invidu yang kurang produktif ketika beranjak dewasa, bahkan bisa menjadi ‘beban’ pembangunan. Ngeri banget, kan?
Untungnya, kondisi ini bisa ‘diselamatkan’ selama masih ada pahlawan-pahlawan perubahan yang BERANI menyumbangkan ide dan gagasannya. Siapa tahu kamu salah satu di antaranya! Ashoka dan Mantasa mengajak kamu menjadi pejuang aktif dalam program "Saya Pemberani", sebuah ajang kompetisi yang mencari para pahlawan remaja untuk menemukan solusi baru agar makanan sehat bergizi dan enak bisa tersedia dan terjangkau oleh kamu dan teman-temanmu. Program  ini adalah bagian dari kerjasama Global Alliance for Improved Nutrition dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang telah banyak melahirkan ‘Young Changemakers’ di bidang gizi dan pangan remaja.
Jadi, jika kamu berusia antara 12 sampai 20 tahun, berdomisili di Indonesia, dan telah memulai inisiatif gerakan untuk meningkatkan konsumsi atau akses kepada makanan yang lebih bergizi dan aman bagi remaja, tunggu apa lagi? Jadilah agen perubahan yang mampu mengubah kualitas hidup generasi masa depan. DAFTAR SEKARANG.
Gimana, kamu BERANI menerima tantangan ini? 

“Health food may be good for the conscience but french fries taste a hell of a lot better.” 

Hayooo...siapa nih yang punya pendapat kayak gini? Coba diingat-ingat seberapa sering kamu makan sayur dan buah-buahan dibanding kentang goreng, burger, minuman bersoda dan teman-teman ‘junk food’ lainnya? Memang sih yang namanya cemilan tidak sehat itu sangatlah menggoda. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh GAIN tahun 2017 menunjukkan bahwa para remaja puteri makan cemilan lebih dari dua kali setiap hari. Bahkan, cemilan bisa menjadi pengganti makanan utama mereka. Alasannya, selain rasanya enak dan harganya murah, cemilan bisa mengisi kebosanan dan menjadi hal yang penting saat belajar kelompok.  
Padahal menurut penelitian lainnya, cemilan yang dikonsumsi para remaja hampir seluruhnya mengandung salah satu dari unsur tinggi karbohidrat/gula, tinggi lemak jenuh dan juga tinggi garam atau perisa makanan lainnya. Data lain juga menunjukkan bahwa setiap 1 dari 4 remaja minum minuman soda sekali atau lebih setiap hari dan lebih dari setengah jumlah responden mengonsumsi fast food satu kali seminggu! 
Kondisi ini tentu saja sangat menyedihkan dan menjadi faktor meningkatnya angka kegemukan dan obesitas pada remaja setiap tahun. Ibarat gadget yang diisi ulang dengan pengisi baterai yang tidak berkualitas, tubuh juga menjadi cepat lelah, sering pusing dan tidak bersemangat jika mengonsumsi makanan yang tidak berkualitas terus menerus. Dampak lebih besar lagi adalah timbulnya penyakit tidak menular seperti diabetes tipe-2, tekanan darah tinggi, bahkan penyakit jantung dan kanker di usia muda. Ngeri banget, kan?
Nah, sadar nggak sih kalau makanan yang kita makan sangat bergantung pada apa yang tersedia di sekolah, mall, gerai makanan maupun penjual makanan di jalan? Memang harus diakui akses ke makanan sehat yang enak dan bergizi sulit dijangkau. Lalu, gimana caranya agar kita generasi muda tidak terjebak dalam pola makan yang kurang sehat seperti ini? Tentunya diawali dengan kesadaran dan kemauan untuk melakukan perubahan. Ingat, perubahan sekecil apapun bisa memberi dampak yang besar! Misalnya saja nih, mengurangi minuman ringan dan memperbanyak minum air putih, atau mengganti cemilan tinggi garam, lemak dan gula dengan semangkuk buah. Setelah mulai dari diri sendiri, siapa tahu kamu bisa mulai mengubah lingkungan di sekitarmu. Atau yang lebih besar lagi, bahkan memulai gerakan perubahan agar makanan enak yang lebih sehat dan bergizi dapat selalu tersedia bagi kamu dan teman-teman generasi muda lainnya. 
Pertanyaannya, BERANI nggak kamu memulainya? DAFTAR SEKARANG.
 
Yuk, kita berkenalan dengan Hayu dan Ara, dua sosok muda inspiratif yang pernah menjadi The Young Changemaker dalam program yang digagas Ashoka, sebuah organisasi kewirausahaan global. Hayu Dyah, nama lengkap gadis muda ini, menginisiasi gerakan revolusi pangan yang mengubah tanaman-tanaman ‘liar’ yang kerap dibuang atau dijadikan pakan ternak kambing dan jangkrik menjadi hidangan lezat bergizi siap santap di meja makan. Di usianya yang masih sangat muda, Hayu mendirikan “Mantasa”, sebuah badan usaha yang bertujuan membawa komunitas di Indonesia kembali ke warisan budaya, dalam hal ini pangan tradisional. 
Akibat kepentingan korporasi, pangan tradisional yang dulunya menjadi makanan berkualitas, kini malah dianggap di bawah standar. Bersama Mantasa, Hayu menginisiasi gerakan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sistem pangan di Indonesia, termasuk keamanan dan kedaulatannya. Gerakan ini juga memberikan pemahaman lebih jauh lagi bagaimana pemerataan sosial dan lingkungan dapat didukung melalui ‘seed freedom’ - sebuah gerakan global yang melindungi pertanian dari industrialisasi dan penggunaan bahan kimia yang dapat merusak lingkungan. Hingga saat ini, Mantasa telah mencatat sekitar 400 jenis tanaman liar yang dapat dikonsumsi kendati sebagian di antaranya belum dapat digunakan karena keberadaannya yang sangat langka. Wow, sangat inspiratif, ya!
Sosok Young Changemaker inspiratif lainnya adalah Ara Kusuma yang meraih gelar ini di tahun 2008, saat usianya belum genap 11 tahun! Ara berkolaborasi dengan warga Desa Sukorejo, sebuah sentra peternakan sapi perah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah untuk mengembangkan incorporated village. Sebuah konsep yang berupaya memanfaatkan seluruh potensi sapi perah demi meningkatkan taraf perekonomian warga sekitarnya. Keren banget, kan?
Moo’s Project, demikian nama proyek inisiatif yang digagas Ara, berfokus mengolah semua potensi ekonomi yang ada pada sapi mulai dari susu sapi, daging sapi, kotoran sapi, urin sapi, pengolahan biogas, hingga agrowisata dan penghijauan. Nggak heran kalau proyek inisiatif ini membuat nama Ara dikenal luas dan mengantarkannya menjadi salah satu anggota termuda dalam jaringan Young Changemaker yang digagas Ashoka.
Kamu juga bisa seperti mereka. Jadilah ‘Pemberani’ dengan mengikuti ‘Saya Pemberani’ sekarang! DAFTAR SEKARANG.

Do you want to get involved in this challenge?

We follow a process with phases. Currently we are in the Registration phase. You can participate by submitting your idea or supporting the ideas of others.
10 ideas
Starts Dec 21, 2019
Announced Mar 01, 2020
Announced Mar 22, 2020
123 days remaining Participate

Attachments (1)

Defining Changemakers.pdf

What is Changemakers, find some of the examples here.